Senin, 29 Oktober 2012

Belajar Cara Mengajar dari Guru Jepang

Belajar Cara Mengajar dari Guru Jepang (bagian I) Seperti janji dipostingan sebelumnya, kali ini saya akan cerita tentang pengalaman saya observasi di sekolah-sekolah Jepang. Karena jurusan saya adalah seikatsu-ka (Living Environmental Studies), maka kelas-kelas yang saya observasi adalah mata pelajaran seikatsu-ka untuk anak-anak kelas satu dan dua SD. Sebelum masuk ke observasi-nya, saya tuliskan dulu tujuan dan target-target umum dari pelajaran ini, sesuai dengan garis-garis besar yang sudah ditetapkan oleh pemerintah Jepang. Supaya kebayang alurnya, dan mudah-mudahan bisa memberi ide kepada praktisi sekolah di Indonesia. Semoga terjemahan langsung saya bisa mudah dimengerti dan enggak terlalu njelimet^__^. Tujuan Seikatsu-ka: Dengan melalui kegiatan dan pengalaman langsung, anak-anak diajak untuk memiliki perasaan ingin tahu terhadap dirinya sendiri, orang lain, masyarakat dan alam. Sambil melakukan proses untuk membuat anak untuk berpikir tentang dirinya dan kehidupannya sehari-hari, mereka diajak untuk memiliki kebiasaan dan sikap yang dibutuhkan untuk menjalani hidup, dan menanamkan sikap mandiri. Empat target Penting seikatsu-ka: 1. Menyadari tentang hubungan antara dirinya dengan orang lain dan masyarakat. 2. Menyadari hubungan dirinya dengan alam. 3. Menyadari tentang dirinya sendiri. 4. Memiliki keinginan untuk beraktivitas, berpikir dan mengekspresikan diri (melalui lisan dan tulisan) Isi dari seikatsu-ka: 1. Memiliki perasaan ingin tahu terhadap lingkungan sekolah (bangunan dan fasilitas sekolah, teman, guru), bisa pergi dan pulang sekolah dengan aman. 2. Memikirkan tentang kehidupan di keluarga. Peran dirinya di rumah dan menjaga kesehatan diri. 3. Mengetahui lingkungan sekitarnya. 4. Memakai sarana umum dengan benar, tahu dan paham bagaimana menjaga fasilitas umum. 5. Memahami hubungan antara kehidupan dan perubahan musim. Mengamati lingkungan dan alam sekitarnya, membuat anak-anak sadar akan perubahan musim. 6. Memanfaatkan alam dan bermain dengan alam—Sangat berhubungan dengan Pendidikan Anak Usia Dini. 7. Memelihara hewan dan tumbuhan. 8. Bertukar cerita dengan orang lain, tentang kegiatan-kegiatan di masyarakat. Meningkatkan kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain. 9. Bisa melihat (merefleksi) ke dalam dirinya sendiri. Tentang perubahan fisiknya yang semakin besar, kemampuan-kemampuan yang sudah di milikinya, peran-perannya yang semakin bertambah, dan apa yang diharapkannya di masa mendatang. Itulah semua inti dari seikatsu-ka. Sepeti biasa, supaya enggak kepanjangan, tulisan ini juga dibuat berseri. Di tulisan berikut insya Allah akan dipaparkan tentang ide-ide kreatif dari para guru SD jepang, dalam membuat program dan menjalankan proses belajar mengajar yang menyenangkan, untuk mencapai tujuan di atas. Belajar Cara Mengajar dari Guru Jepang (Bagian 2) Secara umum, dalam pelajaran seikatsu-ka ada beberapa tahap: 1. Tahap pertemuan. Dalam tahap ini, guru berusaha menumbuhkan motivasi anak-anak untuk mendalami tema yang akan diajarkan. Anak-anak diajak untuk memiliki harapan, apa yang ingin dicapai dalam pelajaran kali ini. 2. Tahap menggali informasi tentang tema yang dipelajari. Bisa lewat buku, internet, juga pengalaman langsung tentang tema yang akan dipelajari. Biasanya dilakukan dengan berkelompok. 3. Tahap ekspresi. Dalam tahap ini, anak-anak mempresentasikan apa yang ia dapat dari tahap ke dua. Melalui tulisan atau lisan (presentasi kelompok). Untuk seluruh tahap ini, bisa terpakai kurang lebih 23 jam pelajaran selama satu catur wulan. Dalam tulisan kali ini, saya akan bercerita tentang observasi di kelas 1, di sekolah binaan Aichi Univ of Education di daerah Nagoya. Di kelas satu, tema yang sedang dipelajari adalah tentang Eksplorasi Sekolah (Gakkou Tanken). Saya tidak terlalu yakin, saat observasi itu, mereka berada pada tahap ke dua atau ke tiga. Karena targetnya ternyata bukan cuma agar anak-anak mengetahui tentang seluk-beluk sekolahnya. Namun lebih dari itu, anak-anak di minta untuk menjelaskan dan menunjukkan kepada orang tuanya segala hal yang ia ketahui tentang sekolahnya. Hasil observasinya seperti ini. Kondisi kelas: Semua anak duduk di lantai, meja kursi disingkirkan. Mungkin karena akan banyak yang akan masuk kedalam kelas, termasuk observer dan para orang tua murid. Proses pelajaran: Guru mengajak anak-anak ngobrol sebelum pelajaran dimulai. Ini sepertinya dilakukan sebagai usaha untuk menghilangkan perasaan grogi anak-anak, karena banyak orang luar yang hadir di kelas. Saat itu, orang tua belum masuk ke dalam kelas. Sepertinya, kedatangan orang tua dirahasiakan oleh guru, untuk menimbulkan efek “exciting” kepada anak-anak. Guru memulai pelajaran dengan mengulas kembali tentang Eksplorasi Sekolah yang sudah dijalani sebelumnya. Anak-anak di tanya, tentang apa saja yang ada di sekolah. Ruangan-ruangan dan tentang guru-guru sekolah. Dengan semangat anak-anak, satu persatu, tunjuk tangan, dan mengungkapkan apa yang ia ketahui tentang sekolahnya. Anak-anak ditanya, setelah tahu tentang sekolah, maukah mereka bercerita tentang sekolah mereka kepada orang lain? Anak-anak menjawab dengan semangat, mau !!! Satelah itu, mulailah sang guru membuka kejutannya. Para orang tua dipanggil untuk masuk ke dalam kelas. Anak-anak terkejut, namun senang, melihat ibunya atau bapaknya, atau keduanya hadir di dalam kelas. Lalu anak-anak diminta untuk menyiapkan perlengkapan yang memang sudah ada sebelumnya. Sarung tangan, bendera kecil, topi. Ceritanya mereka akan menjadi guide, seperti para guide di Jepang, kalau mengantar wisatawan ke tempat-tempat wisata^__^. Tidak lupa pula stopwatch, untuk membatasi waktu anak-anak. Lupa mencatat, berapa menit ya..kalau tidak salah 40 menit. Setelah itu anak-anak bersama orang tuanya, berkeliling sekolah. Dengan semangat mereka bercerita tentang kelas-kelas, benda-benda yang ada di sekolahnya, taman, toilet, dan lain-lain. Sekolah di Jepang memang besar sekali. Rata-rata fasilitasnya lengkap, termasuk ada kolam renang untuk pelajaran olah raga di musim panas. Jadi, anak-anak kelas satu, berkeliling seharian pun, tidak akan cukup untuk menunjukkan seluruh sudut sekolah kepada orang tuanya. Setelah 40 menit, semua anak dan orang tua berkumpul lagi di dalam kelas. Lalu guru bertanya apa pendapat anak-anak tentang pengalaman mengantar orang tua keliling sekolah hari itu. Satu persatu anak-anak mengungkapkan perasaan atau apa yang dipikirkannya. Secara umum menjawab, senang bisa bercerita tentang sekolah mereka kepada orang tuanya, atau ternyata saya bisa menjelaskan tentang sekolah saya dengan baik. Banyak juga yang hanya mengungkapkan perasaan, senang, grogi, bahagia. Semua perasaan anak-anak itu ditulis oleh bapak guru di papan tulis. Terakhir, guru bertanya apa yang dipikirkan oleh orang tua tentang kegiatan ini. Ada beberapa orang yang menjawab, rata-rata memuji anak, dengan mengungkapkan, ternyata anak saya bisa menjadi guide yang baik. Sepuluh menit sebelum waktu belajar habis, anak-anak diminta untuk menuliskan apa yang dipikirkannya dikertas catatan hari itu, yang dibagikan oleh guru. Setelah itu pelajaran selesai.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar